Mitos Kesehatan yang Dipercaya Pelari dan Pesepeda

Oleh Cause ID

6 menit durasi baca516 kali dibaca

Diperbarui
Mitos Kesehatan yang Dipercaya Pelari dan Pesepeda

Habis lari atau gowes, badan capek tapi grup chat komunitas malah ramai forward pesan "awas jangan minum air dingin, nanti kena kanker". Kamu pasti pernah dapat pesan semacam ini, atau justru pernah ikut menyebarkannya karena terdengar masuk akal.

Yuk, kita bongkar beberapa mitos kesehatan yang masih sering dipercaya, supaya kamu dan teman-teman lari atau gowesmu makin jago cek fakta kesehatan sebelum ikut percaya dan membagikannya.

Ini momentum yang pas untuk membahasnya. Kemenkes baru saja meluncurkan Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan pada 17 September 2026, sebagai upaya menangani hoaks kesehatan secara lebih terstruktur, tidak lagi ad hoc seperti selama ini [1].

Ini penting karena menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Digital, sejak Agustus 2018 hingga September 2026 saja sudah terdeteksi 2.622 hoaks kesehatan beredar di berbagai platform digital, dengan isu imunisasi sebagai topik hoaks terbanyak [1].

Mitos: Air dingin setelah makan bisa bikin kanker

Klaim yang beredar bunyinya kira-kira begini: minum air dingin saat makan akan memadatkan lemak dari makanan berminyak, bereaksi dengan asam lambung, lalu berubah jadi lemak yang gampang diserap usus sehingga memicu kanker lambung [2].

Faktanya, ini murni mitos kesehatan yang viral di media sosial, dan minum air dingin tidak menyebabkan kanker [2]. Begitu cairan panas atau dingin masuk ke tubuh, suhunya akan langsung menyesuaikan dengan suhu tubuh, sama seperti makanan lain yang kamu konsumsi [2]. Penggumpalan lemak memang bisa terjadi, tapi itu lebih banyak berlangsung di pembuluh darah, bukan di saluran cerna, sementara lambung punya lingkungan sangat asam yang memecah hampir semua makanan menjadi cairan kental sebelum masuk ke usus halus [2].

Soal "minyak berubah jadi lemak berbahaya" juga tidak masuk akal, karena minyak memang sudah berbentuk lemak sejak awal, dan asam lambung tidak mengubahnya menjadi zat lain [2]. Jadi kalau kamu suka minum air dingin setelah lari siang yang bikin dahaga, aman-aman saja dari sisi klaim ini.

Mitos: Cokelat dan mi instan bereaksi jadi racun

Mitos ini juga sering muncul bergantian versi: katanya kalau cokelat dimakan bareng atau habis makan mi instan, keduanya bereaksi kimia dan jadi racun di tubuh. Setelah ditelusuri, tidak ditemukan studi ilmiah atau pernyataan resmi dari lembaga kesehatan yang mendukung klaim spesifik ini.

Yang benar soal mi instan: konsumsi makanan tinggi garam secara berlebihan memang bisa meningkatkan risiko hipertensi, karena makanan instan umumnya mengandung berbagai zat aditif pengawet dan penambah rasa, termasuk natrium dalam jumlah tinggi [3]. Ini risiko jangka panjang kalau dikonsumsi berlebihan terus-menerus, bukan efek racun instan dari mencampurnya dengan cokelat.

Soal cokelat, ada dua sisi. Cokelat memang dikaitkan dengan beberapa kondisi seperti jerawat dan GERD [4], dan sering dituduh memicu migrain meski riset justru menunjukkan ini banyak jadi miskonsepsi: jauh lebih banyak pasien yang pernah dengar klaim ini (61,7%) dibanding yang benar-benar mengalaminya sendiri (14,3%) [4]. Di sisi lain, dark chocolate dalam porsi wajar justru dikaitkan dengan manfaat, seperti penurunan risiko penyakit jantung pada orang yang makan cokelat setidaknya seminggu sekali, berkat kandungan flavonoid, metilxantin, polifenol, dan asam stearat yang bisa menurunkan peradangan dan meningkatkan kolesterol baik [5]. Tapi ingat, porsi tetap kunci, karena makan cokelat berlebihan tidak memberi manfaat tambahan dan justru tidak baik [5].

Baca juga

Mitos: Alat foot detox bisa keluarkan racun dari kaki

Setelah long run atau gowes jarak jauh, kadang muncul tawaran "coba deh foot detox pad, racun di tubuh langsung keluar lewat kaki". Menurut Mayo Clinic, tidak ada bukti ilmiah tepercaya yang menunjukkan bahwa detox foot pads benar-benar bekerja [6].

Begini cara klaimnya "dijual": produk ini disebut menarik racun dan logam berat keluar dari tubuh selama kamu tidur, lalu pad yang berubah warna gelap di pagi hari diklaim sebagai "bukti" racun sudah keluar [6]. Padahal, pad yang mengandung cuka kayu akan berubah warna gelap yang sama persis baik saat menyerap keringat kaki maupun ketika hanya disemprot air keran biasa, sementara warna air pada foot bath ionik berubah karena elektrode logamnya berkarat, bukan karena racun [7]. Tidak ada bukti ilmiah bahwa perubahan ion di sekitar kaki bisa merangsang pengeluaran racun lewat pori-pori, baik di kaki maupun bagian tubuh lain [7].

Di Amerika Serikat, regulator bahkan sampai turun tangan: Federal Trade Commission pernah menuntut distributor detox foot pads atas iklan menyesatkan, dan seorang hakim melarang penjualan produk tertentu karena diklaim bisa mengobati tekanan darah tinggi, sakit kepala, hingga depresi [6]. Tinjauan lain mencatat kelompok advokasi sains Sense About Science pernah menguji 15 produk detoks termasuk foot patch, dan tidak satu pun produsen mampu memberi bukti atas klaim mereka, bahkan untuk definisi "detoks" itu sendiri [8]. Kabar baiknya, tubuhmu sudah punya sistem detoksifikasi alami sendiri, terutama lewat kerja hati [6].

Kenapa mitos kesehatan ini gampang dipercaya pelari dan pesepeda

Komunitas olahraga itu erat dan saling peduli, jadi pesan "demi kebaikanmu" gampang viral di grup chat. Ditambah lagi, badan yang capek setelah latihan bikin kita lebih rentan percaya solusi instan yang terdengar menjanjikan. Ini wajar, tapi bukan berarti kita berhenti mengecek faktanya.

Beberapa langkah sederhana sebelum kamu percaya atau forward info kesehatan:

  • Cari tahu dulu apakah klaimnya datang dari sumber ilmiah atau cuma pesan berantai.
  • Cek di kanal resmi seperti situs Kementerian Kominfo di komin.fo/inihoaks, turnbackhoax.id, atau cekfakta.com [9].
  • Untuk pertanyaan kesehatan yang sifatnya personal, seperti pola makan sebelum lomba atau kondisi tubuh tertentu, tanyakan ke dokter atau ahli gizi, bukan ke grup chat.

Jangan jadi penyebar hoaks berikutnya

Mitos-mitos ini terasa sepele, tapi menyebar tanpa cek fakta bisa bikin orang lain salah langkah soal kesehatannya sendiri. Sebagai komunitas yang aktif dan saling dukung, kita bisa pilih untuk jadi penyaring, bukan penyebar hoaks kesehatan berikutnya. Yuk mulai dari sekarang: sebelum forward pesan kesehatan ke grup lari atau gowesmu, luangkan satu menit untuk cek faktanya dulu lewat kanal resmi yang sudah disebutkan di atas πŸ™‚

Lanjut baca

Sumber

  1. Lawan Hoaks Kesehatan, Kemenkes Bangun Sistem dan Kolaborasi Respons Cepat β€” Kementerian Kesehatan RI
  2. Does drinking Cold Water in the morning cause cancer? β€” Mayo Clinic
  3. Cegah Hipertensi Dengan Membaca Informasi Nilai Gizi Pada ... β€” Kementerian Kesehatan RI
  4. Cocoa and Chocolate in Human Health and Disease - PMC β€” PubMed Central
  5. Coklat, Enak dan Potensi Menyehatkan - Yankes Kemkes β€” Kementerian Kesehatan RI
  6. Detox foot pads: Do they really work? - Mayo Clinic β€” Mayo Clinic
  7. The dubious practice of detox - Harvard Health β€” health.harvard.edu
  8. The Great β€œDetox” Deception β€” nature.com
  9. Media Sosial: Cara Bendung Peredaran Hoaks Informasi Kesehatan di Sekitar Kita β€” Kementerian Kesehatan RI

Photo by RUN 4 FFWPU on Pexels

Bagikan:WhatsAppFacebookXLinkedIn